Rabu, 18 Januari 2012

Adat pindah rumah cara jawa

Posted by erna victor On 08.56 6 comments




 Di tengah peradaban modern ini, masih saja aku percaya dengan yang namanya sesaji (sajen). Sesaji adalah  benda yang di siapkan pada suatu tempat tertentu dengan tujuan tertentu, misal untuk keselamaan dan sebagainya. Ya, mungkin untuk sebagian orang hal itu sudah di katakan kuno, bahkan  menurut  penganut agama tertentu mungkin hal ini di katakan  musrik, karena percaya pada benda- benda. Tapi bagi ku tidak, aku masih percaya adanya kekuatan  yang tersimpan di balik sesaji. Mungkin karena aku terlahir di dalam budaya jawa, sehingga masih melekat tanaman adat di kehidupan ku dan perilakuku. Ketika masih usia balita, adat tetesan ( sunatan bagi cewek ) pun di lakukan nya bahkan ada adat yg dilakukan pada “mens” pertama. Pada adat jawa, mens atau haid pertama di tandai dengan “pangur “ gigi, atau menyamakan bentuk gigi.  Tapi aku menolak melaksanakan "pangur gigi " karena aku secara waktu itu aku memang nggak mau merubah bentuk gigi karena aku yakin sudah rapi, juga di karenakan aku memang takut dengan hal tersebut.     
Sekarang jaman sudah berkembang dan jamannya era globalisasi. Hal ini di tandai dengan beralihnya tenaga manusia dengan mesin, berubahnya peradaban manusia, dengan banyak  meninggal adat istiadat. Jarang sekali orang di kota, aku temui dengan adat yang masih melekat, mereka sudah menanggalkan satu persatu bahkan ada yang benar-benar tidak memakai adat  lagi.  Sungguh di sayangkan, mengapa mereka meninggalkan kebiasaan nenek moyang itu.  Meskipun aku berada pada lingkaran orang-orang modern dan orang-orang yang berpikiran lebih maju, namun aku masih percaya dan masih melakukan sesuatu dengan kebiasaan adat jawa. Karena bagiku nguri-nguri atau melestarikan  adat adalah sebagian dari kecintaan kita pada nenek moyang dan suatu daerah. 


Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kan rejeki dari Tuhan, yaitu aku bisa membeli rumah meskipun dengan cara mencicil nya.  Dengan DP atau uang muka yang lumayanesar bagi ku , akhirnya salah satu bank menandatangani kontrak perjanjian hutang ku untuk sebuah pembelian rumah.  Seperti hal nya orang-orang, aku pun melakukan tasyakuran.
Tasyakuran  untuk acara slup-slup an rumah atau memasuki rumah untuk kali pertama karena akan ditempati, aku lakukan. Aku menyiapkan nasi kotak  sebanyak jumlah tetangga dekat. Tak lupa aku siapkan ubo rampe untuk sesaji.  Dengan nasehat orang yang sudah melaksanakan slup – slup an rumah,  dan memang aku masih kental dengan adat jawa ku, aku pun pergi ke pasar tradisional untuk mendapatkan barang yang aku perlukan.  Sesampai di pasar, aku langsung menuju ketempat orang yang berjualan bunga. Tinggal bilang, beli ubo rampe untuk pindah rumah atau slup-slupan, si penjual itu sudah dengan cekatan memberi apa yang kita butuh kan lengkap. Setelah mendapatkanya aku pulang dan ku tata rapi di salah satu tempat atau kamar. Ubo rampe yang berupa tiker, lampu teplok dan kwali, juga bumbu- bumbu dan bahan  masakan tertata sudah. Aku menyusun nya persis seperti yang di bilang si penjual tadi, jadi beras aku masukan ke kwali penuh, dan bawang merah, bawang  putih juga cabe , garam, gula aku bungkus plastik sendiri-sendiri dan aku tata di atas kwali yang berisi beras tadi, dengan alas tiker pandan kecil dan lampu teplok yang ku nyalakan serta kendi yang berisi air. Semua itu berarti agar kedepan nya si pemakai rumah ini mendapat rejeki yang terus dan tak pernah putus, dapur yang di ibaratkan memakai kwali itu di harapkan agar selalu ada yg di masak, lampu teplok menandakan agar si empu rumah selalu dalam pikiran terang dan mendapat rejeki dengan mudah, air simbol ke”adem”an, agar rumah tersebut dalam keadaan tenteram, bunga sebagai simbol agar rumah tersebut mempunyai nama harum di lingkungan. Air kendi yang sudah di persiapkan  itu kemudian di tuang ke beberapa sisi ruang dan juga jalan masuk rumah atau pintu agar rejeki nya lumintu dan rumah menjadi tempat paling menentramkan. Bagaimana menurut anda, tentang adat sesaji ? apa perlu di uri-uri atau di lestarikan atau hal itu di anggap tidak perlu?


Ubo rampe : syarat
Lumintu : terus - terus an
Slup-slup an : acara kali pertama masuk ruamh yg akan di tempati
Kwali : alat masak dari gerabah
Pangur : penyamaan gigi
Tetesan : sunatan perempuan ala jawa
Sesaji:berbagai jenis barang untuk persembahan
Lampu teplok : lampu yang di nyalakan dengan minyak tanah
Nguri-uri : melestarikan


Sebatas pengetahuan erna

6 komentar:

wuah...
seru juga adat istiadat kita ya..
seandainya kita lakukan semua adat kita, bisa pemborosan kali ya :D

ya begitulah, tapi ada nikmat nya juga menurut ku sih

untuk saya cukup dengan mengundang makan tetangga-tetangga sekitar untuk makan-makan supaya bisa bekenalan dengan tetangga baru...

iya banyak yg seperti itu, tapi ada beberapa syarat yang diperlukan menurut orang jawa.
semua kembali kepada diri kita...

Wong jowo ojo ngasi ilang jawane Na... hehehehee

tidak perlu mas, barang2 tadi sama sekali tidak mempunyai manfaat dan sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa apa, kelancaran rejeki di hasilkan dari kerja keras kita di barengi doa.
bagi seorang muslim dosa besar dan musrik.

Poskan Komentar

monggo di pun koreksi